BRI Kantor Cabang Cikampek Tebar Kepedulian Melalui Jumat Berkah

INLINK, Karawang I – Bank BRI Kantor Cabang Cikampek kembali menunjukkan kepedulian sosial melalui program Jumat Berkah yang digelar di Masjid Jami Albarokah, Jalan A. Yani Sentul, Desa Cikampek Selatan, Kecamatan Cikampek, Karawang, Jawa Barat, Jumat (9/1/2026) siang.

Dalam kegiatan tersebut, BRI membagikan paket makanan kepada masyarakat sekitar masjid sebagai wujud semangat berbagi dan kepedulian terhadap lingkungan sosial.

Kepala Cabang BRI Cikampek, Pandu Ksuma Wardhana, mengatakan bahwa program ini merupakan bagian dari komitmen BRI untuk hadir dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

“Program Jumat Berkah ini menjadi salah satu bentuk kepedulian sosial BRI dengan berbagi kepada sesama, khususnya masyarakat di sekitar lingkungan kerja kami,” ujarnya.

Ia menambahkan, para pekerja BRI Cabang Cikampek terlibat langsung dalam proses pembagian makanan, sebagai bentuk kedekatan dan empati terhadap masyarakat.

“Melalui kegiatan seperti ini, BRI tidak hanya hadir pada perbankan, tetapi juga sebagai mitra sosial yang aktif membantu masyarakat serta memperkuat solidaritas sosial,” tutur nya.

Enggan Dibawah Kementerian, Kapolri Listyo Sigit Prabowo Lebih Memilih Jadi Petani

INLINK, Jakarta | Kapolri, Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, tegas menolak wacana penempatan Polri di bawah struktur kementerian, termasuk dalam bentuk pembentukan jabatan Menteri Kepolisian, saat tampil dalam Rapat Kerja bersama Komisi III DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (26/1/2026).

Dalam pernyataannya, Kapolri mengungkap bahwa selama diskusi tentang gagasan kelembagaan tersebut, ada pihak yang bahkan menyampaikan tawaran kepadanya melalui pesan WhatsApp mengenai kemungkinan dirinya menjabat sebagai Menteri Kepolisian. Namun Kapolri menolak tawaran tersebut secara tegas.

“Saya menolak polisi di bawah kementerian. Dan kalaupun saya yang menjadi Menteri Kepolisian, saya lebih baik menjadi petani saja,” ujar Jenderal Sigit dengan tegas di hadapan anggota DPR RI. Ungkapan ini menggambarkan sikap kerasnya menolak gagasan yang menurutnya dapat melemahkan posisi kelembagaan Polri jika ditempatkan di bawah kementerian lain.

Dugaan “Bermain” Ijon Pokir, Anggota Parlemen Kabupaten Tangerang Dilaporkan ke KPK

INLINK, Jakarta | Diduga “bermain” proyek aspirasi warga, anggota DPRD asal Kabupaten Tangerang Banten, Hugo Simon Franata dilaporkan oleh Lembaga Pendidikan Pemantau dan Pencegahan Korupsi RI (LP3K-RI) ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) belum lama ini. Saat ini laporan tersebut telah diterima pihak KPK pada 2 Januari 2026 untuk diteliti.

Menurut keterangan Ketua Umum LP3K-RI Bambang Yudy Baskoro, Hugo diduga melakukan rasuah melalui mantan Kepala Desa Pasilian Kecamatan Kronjo berinisial M, dengan modus ijon pokir (pokok pikiran).

“Adapun modus ijon pokir antara lain perbaikan saluran air di wilayah Binonh Permai, Kecamatan Curug Kabupaten Tangerang,” ucap Bambang melalui keterangan tertulis, pada Sabtu (24/1/2026).

Bambang mengatakan, indikasi rasuah karena pekerjaan saluran air dikerjakan dengan tidak sesuai prosedur pekerjaan. Selain itu pelaksana perkerjaan saluran air ditengarai merupakan kerabat Hugo sendiri.

Masih kata Bambang, ada pula proyek pemagaran makam Kampung Peusar di Kelurahan Binong Kecamatan Curug Kabupaten Tangerang Banten. “Kontraktor pelaksana masih kerabat dari Hugo berinisial A,” terangnya.

Bambang menambahkan, proyek pemasangan konblok dan jembatan lingkungan di Blok B RT 37 Perumahan Binong Permai Kabupaten Tangerang dikerjakan secara serampangan.

“Hampir semua proyek pokir di Kabupaten Tangerang telah dikuasai kerabat Hugo. Bahkan ada informasi yang menyebutkan bahwa Hugo menerima dana ratusan juta dari koleganya,” tandas Bambang.

,”Alhamdulillah Dumas kami sudah ditindaklanjuti. Tentunya kami memberikan Apresiasi kepada KPK, terlebih saat ini KPK sedang gencar melakukan OTT. Intinya KPK akan segera melakukan tindaklanjut laporan kami tersebut, karena diduga banyak yang terlibat,” PaparKetua Umum LP3K-RI kepada awak media, pada Sabtu (24/01/2026).

Bambang juga merincikan beberapa proyek Pokir yang dimainkan Hugo diantaranya, pemasangan paving blok dan jembatan lingkungan di Blok B RT 37 Perumahan Binong Permai, Kecamatan Curug, Kab.Tangerang, kemudian Pemagaran Makam Kampung Peusar RT/005/001 Kelurahan Binong Kecamatan Curug, Perbaikan saluran air (U-Ditch) RT/03 RW/10 Binong Permai, Kecamatan Curug, Kabupaten Tangerang.

“Parahnya lagi proyek tersebut kontinu, setiap pokir murni senilai pokir Rp 5 Miliar, dan perubahan APBD dengan nilai pokir Rp 2 Miliar, selalu ijon (di depan) tidak ada dibelakang setelah pekerjaan, kecuali uang-uang lain dari mitra atau saat sidak ke perusahaan-perusahaan / PIK,” jelasnya.

Terpisah, Hugo Simon Franata saat dikonfirmasi oleh awak media melalui pesan WhatsApp pribadinya pada (26/01/2026) hingga berita ini ditayangkan belum memberi tanggapan.

 

Panbers: Harmoni Saudara yang Menjadi Ikon Sejarah Musik Indonesia

INLINK,JAKARTA | Komisaris Dragon Law Firm Lana Kartasasmita beserta Ketua Forum Wartawan Jaya (FWJ) Indonesia untuk wilayah Jakarta Barat dan Tangerang Selatan melakukan kunjungan silaturahmi ke kediaman Asido Panjaitan, yang akrab disapa Sido, drummer sekaligus salah satu pendiri grup musik legendaris Indonesia, Panbers. Senin (5/1/2026),

Acara dimulai dengan silaturahmi dan makan siang bersama, di mana mereka berbincang santai mengenai perjalanan panjang karir grup band Panbers, mulai dari awal pembentukan hingga berbagai prestasi yang telah diraih sepanjang tahun.

Setelah selesai makan siang, kegiatan dilanjutkan dengan sesi latihan di studio rekaman milik Panbers. Dalam kesempatan tersebut, mereka bersama-sama membawakan beberapa lagu kenangan dari tahun 1970-an. Acara latihan berlangsung dengan sangat semangat, dan terlihat bagaimana mereka tetap menjaga keakraban serta kompak yang telah terbentuk selama puluhan tahun.

Panbers, akronim dari Pandjaitan Bersaudara, merupakan grup musik Indonesia yang sangat legendaris dengan perjalanan karir yang panjang dan penuh prestasi,

Pada tahun 1963, grup ini pertama kali dibentuk di Surabaya dengan nama “Panjaitan Bersaudara” oleh empat saudara kandung: Hans, Benny, Doan, dan Asido Panjaitan. Selain mereka, Soen Ing juga bergabung sebagai gitaris ritme.

Pada tahun 1965, keluarga Panjaitan pindah ke Jakarta dan Soen Ing keluar dari formasi. Kemudian pada tanggal 25 Januari 1969, nama resmi grup diubah menjadi Panbers dan mereka mulai fokus mengembangkan karir musik secara profesional,

Pada tahun 1970-an, Panbers mulai dikenal luas setelah tampil di Istora Bands Jamboree dan muncul di layar kaca televisi. Pada 1971, mereka merilis album debut berjudul Volume 1: Kami Cinta Perdamaian dengan lagu hits “Akhir Cinta”. Tak lama kemudian, pada 1972 dirilis album sukses berikutnya Sound 2 (Mengapa Begini) yang menghasilkan lagu-lagu hits lainnya seperti “Bebaskan”, “Musafir”, dan “Terlambat Sudah”.

Grup ini bahkan memiliki kesempatan menjadi pembuka konser bagi band Barat ternama seperti Bee Gees dan Shocking Blue. Sebanyak tujuh lagu mereka berhasil meraih sertifikat piringan emas.

Pada tahun 1990-an, formasi Panbers mulai mengalami perubahan. Awal dekade tersebut, Maxi Pandelaki bergabung sebagai bassist pertama yang bukan berasal dari keluarga Panjaitan. Hans Panjaitan wafat pada 1995 dan kemudian digantikan oleh Hans Noya pada 1999. Pada tahun 2000, Hendri Lamiri (biola) juga bergabung ke dalam grup.

Karya dan Warisan lagu bagi Musik Indonesia, sejak awal berkarir, Panbers telah menciptakan lebih dari 700 lagu yang terangkum dalam puluhan album dengan berbagai genre, antara lain pop, rock, spiritual, keroncong, dan Melayu. Beberapa lagu ikonik mereka seperti “Akhir Cinta”, “Gereja Tua”, “Cinta dan Permata”, dan “Kami Cinta Perdamaian” hingga kini masih sering diputar dan menjadi bagian penting dalam sejarah musik Indonesia.

Asido “Sido” Panjaitan, drummer dan salah satu pendiri Panbers, menyampaikan: “Bersama tiga saudara kandung saya membangun Panbers bukan hanya untuk mengejar impian dalam musik, melainkan untuk menyampaikan pesan cinta, perdamaian, dan kebersamaan melalui setiap irama dan lagu yang kami ciptakan. Dari awal berjalan di Palembang ke Surabaya hingga berkiprah di Jakarta, setiap jeda irama dan ketukan drum yang saya mainkan adalah bentuk dedikasi saya untuk keluarga dan tanah air. Meskipun telah melalui berbagai pergantian formasi dan masa-masa sulit, semangat harmoni saudara dalam musik Panbers akan tetap hidup dan disukai oleh masyarakat, dan tak pernah pudar bagi kita semua.”

Di kediaman Asido “Sido” Panjaitan. Maxi Pandelaki, bassist Panbers, mengungkapkan sejarah awal terbentuknya grup musik legendaris ini. Sebelum menetap di Surabaya, keluarga Panjaitan tinggal di Palembang, di mana mereka sudah mulai membentuk band anak-anak bernama Turuna Boys.

Waktu itu hanya berempat kakak adik kandung sudah bermain musik sejak kecil, jauh sebelum pindah ke Surabaya. Band bocah waktu itu punya 8 orang personil dan bahkan sudah pernah manggung di kantor gubernur,” ujar Maxi.

Pada tahun 1969, grup yang awalnya bernama Panjaitan Bersaudara dibentuk oleh Benny Panjaitan, kemudian disingkat menjadi Panbers. Menurut Maxi, harapan awal dari grup ini adalah menjadi legendaris. “Menjadi top itu mudah, namun menjadi legenda itu sulit karena harus abadi. Dan kini kami bisa mengatakan bahwa kami adalah legenda musik lawas Indonesia,” tambahnya.

(Tim)